menu
  • Inspirasi Millenial
  • Viral
  • Galeri
  • Video
  • LAINNYA

# Bitcoin

  • G-20 Luncurkan Kerangka Kerja Pengawasan Bitcoin Cs – read more
  • Bitcoin Sudah Bisa Penuhi Syariat Islam – read more
  • Polisi Ungkap Judi Bola Pakai Bitcoin Senilai Rp 21 Triliun – read more
  • Kota New York Beri Izin Mata Uang Virtual ke Perusahaan Bitpay – read more
Lama Keluar Dari OPEC, Apakah Bisa Sebabkan Ekonomi Indonesia Melemah?
Next Posts
Apakah ekonomi Indonesia akan terpengaruh karena keluar dari OPEC?

12,150 views

Foto Opec

Intisari-Online.com - Indonesia pernah bergabung dengan OPEC, namun belum lama bergabung dengan organisasi tersebut Indonesia memutuskan untuk keluar. Apakah ekonomi Indonesia akan terpengaruh karena keluar dari OPEC?

Seperti yang kita ketahui, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) adalah organisasi antar pemerintah dari 15 negara yang didirikan pada 1960 di Baghdad oleh lima anggota pertama (Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Venezuela).

Sejak 1965, organisasi ini berkantor pusat di Wina, Austria. Pada 2018, 15 negara menyumbang sekitar 44 persen produksi minyakglobal dan 81,5 persen dari cadangan minyak dunia.

Dan ini "terbukti" memberi OPEC pengaruh besar pada harga minyak global yang sebelumnya ditentukan oleh kelompok yang didominasi Amerika yang disebut sebagai kelompok "Seven Sisters" dari perusahaan minyak multinasional.

Misi organisasi adalah untuk mengoordinasikan dan menyatukan kebijakan perminyakan negara-negara anggotanya dan memastikan stabilisasi pasar minyak.

Selain itu untuk mengamankan pasokan minyak yang efisien, ekonomi dan reguler kepada konsumen, penghasilan tetap bagi para produsen, dan pengembalian yang adil atas modal bagi mereka yang berinvestasi dalam industri perminyakan.

Organisasi ini juga merupakan penyedia informasi penting tentang pasar minyak internasional.

Anggota OPEC saat ini adalah: Aljazair, Angola, Ekuador, Guinea Khatulistiwa, Gabon, Iran, Irak, Kuwait, Libia, Nigeria, Qatar, Republik Kongo, Arab Saudi (pemimpin de facto), Uni Emirat Arab, dan Venezuela.

Sementara Indonesia adalah mantan anggota. 

Banyak orang pasti bertanya-tanya, apakah keluarnya Indonesia dari organisasi OPEC akan mempengaruhi ekonomi?

Presiden Joko Widodo mengatakan, keputusan Indonesia untuk keluar sementara dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) tidak akan berdampak besar bagi perekonomian dalam negeri.

Melansir dar Kompas.com, pemerintah memiliki pertimbangan lain sebelum mengambil keputusan tersebut.

Presiden mengatakan, Indonesia bukan kali ini saja keluar dari keanggotaan OPEC.

Pembekuan pertama keanggotaan Indonesia di OPEC terjadi pada tahun 2008, dan efektif berlaku 2009.

Indonesia memutuskan kembali aktif sebagai anggota OPEC pada awal 2016.

"Dulu kita pernah menjadi anggota OPEC dan tidak menjadi anggota OPEC."

"Kemudian kita masuk lagi karena kita ingin informasi naik turunnya harga, kemudian kondisi stok di setiap negara. Itu bisa tahu kalau menjadi anggota," kata Jokowi, di Jakarta, Kamis (1/12/2016).

Menurut Jokowi, keputusan Indonesia untuk kembali hengkang dari OPEC atas dasar untuk memperbaiki struktur Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

"Tapi karena untuk perbaikan APBN, ya kalau memang kita harus keluar lagi juga tidak ada masalah," ucap dia.

Keputusan Indonesia keluar sementara dari OPEC diambil dalam Sidang ke- 171 OPEC di Wina, Austria, Rabu (30/11/2016).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menjelaskan, langkah pembekuan diambil menyusul keputusan sidang untuk memotong produksi minyak mentah sebesar 1,2 juta barel per hari (bph), di luar kondensat.

Sidang juga meminta Indonesia untuk memotong sekitar 5 persen dari produksinya, atau sekitar 37.000 bph.

"Padahal kebutuhan penerimaan negara masih besar dan pada RAPBN 2017 disepakati produksi minyak di 2017 turun sebesar 5.000 bph dibandingkan 2016," kata Jonan melalui keterangan resmi, Kamis (1/12/2016).

Dengan demikian, pemotongan yang bisa diterima Indonesa adalah sebesar 5.000 bph.

Jonan menambahkan, sebagai negara net importir minyak, pemotongan kapasitas produksi ini tidak menguntungkan bagi Indonesia, karena harga minyak secara teoritis akan naik. (Ihsanuddin)

REAKSI ANDA?

Facebook Conversations



Artikel Terkait