menu
  • Inspirasi Millenial
  • Viral
  • Galeri
  • Video
  • LAINNYA

# Bitcoin

  • G-20 Luncurkan Kerangka Kerja Pengawasan Bitcoin Cs – read more
  • Bitcoin Sudah Bisa Penuhi Syariat Islam – read more
  • Polisi Ungkap Judi Bola Pakai Bitcoin Senilai Rp 21 Triliun – read more
  • Kota New York Beri Izin Mata Uang Virtual ke Perusahaan Bitpay – read more
Kehadiran Ayah Secara Fisik Dan Psikis Penting Bagi Anak
Next Posts
Ayah memiliki pengaruh dalam pembentukan karakter sosial seorang anak

8,694 views

Orang tua murid mengawasi anaknya pada hari pertama masuk sekolah di Sekolah Dasar Negeri 08 Ciomas, Bogor, Jawa Barat, Senin (16/7/2018). Hari pertama masuk sekolah tahun ajaran 2018-2019 dimulai secara serentak di Indonesia pada Senin 16 Juli. - ANTARA/Yulius Satria Wijaya

Bisnis.com, JAKARTA – Monika W. Satyajati, Psikolog dari Center for Trauma Recovery Fakultas Psikologi UNIKA Soegijapranata,  menyebut dalam kehidupan keluarga dengan kultur paternalistik seperti Indonesia, ayah memiliki pengaruh dalam pembentukan karakter sosial seorang anak.

Monika menilai karakter pribadi dan ruang-ruang privat anak biasanya dipengaruhi oleh ibu. Bukan berarti figur Ibu dijebak dalam ruang-ruang domestik dan privat semata. Hal ini menandakan bahwa kultur paternalistik terlanjur memberikan peran ayah sebagai pelindung keluarga dan anak.

“Nah, peran seorang ayah seharusnya sudah mulai dilakukan sejak si bayi masih dalam kandungan, bukan saat menunggu si bayi lahir. Alasannya, pola pengasuhan ayah sesuai peran adalah kunci menanamkan nilai-nilai kepada si anak dari mulai nilai menjaga dan karakter anak,” kata Monika kepada Bisnis, Senin (12/11/2018).

Dia menegaskan kehadiran ayah secara fisik dan psikis memang sangat dibutuhkan oleh setiap anak. Setelah anak menjadi remaja, peran ayah tetap sangat dibutuhkan, karena awalnya menjadi penjaga dia pun mulai beralih peran.

Monika menyebut anak remaja cenderung tidak ingin terlalu dilindungi oleh ayahnya. Dalam posisi itulah nilai-nilai tentang peran ayah tidak dilakukan secara langsung tetapi telah tertanam sebagai bentuk kepercayaan.

"Ketika Bapak tidak dekat secara emosional dengan anak perempuannya itu ada kendala. Umumnya saya bertemu orang di rehabilitasi yang punya masalah, ternyata mereka punya persepsi yang buruk soal ayah mereka," sambungnya.

Monika menegaskan, tantangan ilmu psikologi saat ini adalah juga memperbanyak kajian pengasuhan ayah. Pasalnya, kajian tentang pengasuhan ibu jauh masih lebih banyak daripada kajian tentang pengasuhan ayah.

“Ibu selalu laku keras sebagai objek penelitian ketimbang ayah. Sementara persepsi buruk pada keluarga umumnya didapatkan pada figur ayah,” tutur Monika.

Monika menambahkan hal ini menjadi sebuah tantangan dalam bidang psikologi, apakah riset tentang pengasuhan ibu menjadi lambang dunia paternalistik yang membuat ruang tanggung jawab pengasuhan anak hanyalah tanggung jawab ibu.

REAKSI ANDA?

Facebook Conversations



Artikel Terkait