menu
  • Inspirasi Millenial
  • Viral
  • Galeri
  • Video
  • LAINNYA

# Bitcoin

  • G-20 Luncurkan Kerangka Kerja Pengawasan Bitcoin Cs – read more
  • Bitcoin Sudah Bisa Penuhi Syariat Islam – read more
  • Polisi Ungkap Judi Bola Pakai Bitcoin Senilai Rp 21 Triliun – read more
  • Nilai Bitcoin Bak Roller Coaster, Bisa 'Cuan' Rp 200.000/Jam! – read more
Cerita Mistis Dari Melawi, Satu Kampung Ketakutan Diganggu Makhluk Halus Lalu Mengungsi
Next Posts
Untuk memastikan hal ini, Camat Nanga Pinoh, Daniel beserta pihak terkait mendatangi lokasi

6,426 views

okezone.com - Sebanyak 36 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Otak Pantai, Desa Tebing Kerangan, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat terpaksa mengungsi ke sebuah basecamp di salah satu perusahaan. Hal itu dikarenakan warga dihantui rasa ketakutan terhadap kejadian yang dianggap warga janggal atau dan berbau mistis.

Untuk memastikan hal ini, Camat Nanga Pinoh, Daniel beserta pihak terkait mendatangi lokasi. Informasi yang berhasil dikumpulkan, diceritakan Daniel, bahwa 36 KK yang terdiri 108 jiwa itu mengungsi karena mengalami kejadian yang aneh. Delapan warganya mengalami kejadian yang sama. Dua dari meninggal dunia.

Daniel melanjutkan, keanehan berawal sejak sembilan bulan yang lalu ada seorang warga setempat yang meninggal dunia secara tiba-tiba. Dari pemeriksaan pihak medis, tidak ditemukan penyakit penyebab meninggalnya warga tersebut.

“Nah, terbentuklah dibenak warga bahwa kematian tersebut janggal. Timbul keresahan warga. Apalagi tak lama kemudian, meninggal lagi satu orang nenek berusia 72 tahun. Nenek ini awalnya sedang santai-santai menonton di rumahnya, tiba-tiba pingsan, kejang-kejang dengan rahang terkunci. Kaki tangannya kaku serta mulutnya mengeluarkan buih dan langsung meninggal,” kisahnya kepada sejumlah wartawan, Kamis (2/8/2018).

Berselang satu jam kemudian, lanjut Daniel menjelaskan, suami nenek yang meninggal tersebut mengalami kejang-kejang serta gejala yang sama. Si suami pingsan, kejang-kejang lalu rahang terkunci, kaki tangan kaku dan mukut berbuih. Terhadap persoalan ini, pihak keluarga memindahkan suami nenek itu ke rumah yang lain. Karena menurut keyakinan warga, gejala itu bisa disembuhkan jika penderita dipindahkan.

Lalu, terhadap si nenek yang meninggal itu kemudian dimakamkan. Setelah proses pemakaman selesai dan pelaksanaan ibadah penghiburan, muncul lagi seseorang yang mengalami hal yang sama. Kejadian ini terus-terusan. Total, ada enam orang yang mengalami kejadian yang sama.

"Jadi ada enam orang yang mengalami hal yang sama. Sehingga ditambahkan dua orang yang meninggal, maka yang mengalami kejadian aneh ini semuanya berjumlah delapan orang,” kata Daniel.

Melihat kejadian yang seperti ini, masyarakat yang sudah merasa ketakutan, menduga bahwa ada sesuatu di desa mereka. Ditambah lagi pengakuan beberapa orang yang pingsan dan mengalami hal yang aneh tersebut, bahwa mereka melihat sesosok mahluk halus. Berbadan besar, tinggi, hitam dan telinganya besar dan panjang.

“Nah, itulah sebabnya 108 jiwa ini tidak berani tinggal di kampung dan memilih mengungsi. Kami sudah berdialog dengan pengungsi dan kepala dusun, seperti apa antisipasi dan keinginan mereka. Di tengah cerita-cerita itu mereka sepakat tidak berani kembali dan bersikukuh masih akan tinggal di tempat pengungsian,” terangnya.

Kemudian, lanjut Daniel, warga pun masih mengupayakan untuk mencari paranormal yang bisa mengusir makhluk halus tersebut. Sementara pengusiran makhluk halus itu berlangsung, mereka menjamin menjaga hal-hal yang tidak diinginkan termasuk menghilangkan kecurigaan yang sangat berlebihan antara satu sama lain dan menghindari sikap-sikap yang melawan hukum. Misalnya dengan cara main hakim sendiri.

“Saya perintahkan tidak ada gerakan yang bersifat personal pribadi. Segala sesuatu harus dirapatkan dan dikonsultasikan kepada kepala dusun. Kemudian laporkan dulu kepada saya selaku Camat, kepada Kapolsek dan Danramil,” jelasnya.

Daniel mengatakan, memang ada alternatif dan tawaran-tawaran dari pihak Forkompincam kepada warga misalnya meminta unsur rohaniawan untuk datang hadir di lokasi. Kemudian meminta warga melakukan ronda secara bersama-sama, memastikan, melihat seperti apa kejadian-kejadian yang sedang berlangsung.

"Sebab ini adalah pengalaman pribadi orang per orang yang tidak melihat secara keseluruhan. Tetapi akibat cerita berantai pengalaman pribadi itu membentuk opini yang memang sangat meresahkan. Sehingga membuat warga menjadi tidak berani ada di desanya," ujar dia.

Warga mengunsi pada malam hari, sementara pada siang harinya aktivitas masih berlangsung seperti biasa. Hal-hal lain seperti penyakit dan lain sebagainya, tidak temukan. “Dalam waktu yang tidak lama lagi kami pun akan berkunjung ke sana lagi, melihat perkembangan. Kita sudah sampaikan atau berkomunikasi dengan Pak Bupati,” terangnya.

(kha)


Artikel asli https://bit.ly/2OEX1f2

REAKSI ANDA?

Facebook Conversations



Artikel Terkait